W.S. Rendra: Biografi Seorang Seniman Kontroversial

- Minggu, 19 Maret 2023 | 21:15 WIB
Sastrawan W.S Rendra
Sastrawan W.S Rendra

Fokus Solo-W.S. Rendra lahir di Solo, Jawa Tengah pada tanggal 7 November 1935. Ayahnya adalah seorang guru yang mengajarkan Bahasa Indonesia, sementara ibunya adalah seorang guru musik. Sejak kecil, Rendra sudah menunjukkan minat yang besar terhadap dunia seni dan sastra. Ia sering membaca buku-buku Puisi dan prosa, serta aktif dalam kegiatan teater di sekolahnya.

Setelah lulus dari SMA, Rendra kuliah di Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada (UGM) di Yogyakarta. Di sana, ia terlibat dalam gerakan mahasiswa dan sering kali menulis Puisi-Puisi kritis yang mengkritik rezim pemerintahan pada masa itu. Setelah lulus dari UGM, Rendra menjadi guru di sebuah sekolah di Jakarta, sambil terus menulis Puisi dan drama.

Baca Juga: Rangkuman Buku The Psychology of Money: Buku Mengenai Hubungan Antara Psikologi dan Keuangan

Pada tahun 1967, Rendra mendirikan teater Bengkel, sebuah kelompok teater yang terkenal dengan pementasan-pementasannya yang kritis dan inovatif. Di sana, Rendra menulis dan menyutradarai banyak drama yang menjadi sorotan masyarakat. Beberapa di antaranya adalah "Ngayogyakarta", "Perang", dan "Darah". Drama-drama ini sering kali mengkritik keadaan sosial-politik di Indonesia, dan membuat Rendra sering kali menjadi sasaran penangkapan dan penahanan oleh pihak berwenang.

Meskipun sering kali mengalami kesulitan dengan pihak berwenang, karya-karya Rendra semakin dikenal di Indonesia maupun di luar negeri. Pada tahun 1972, ia dianugerahi penghargaan Magsaysay Award untuk kategori seni dan sastra. Selain itu, ia juga pernah diundang untuk membacakan puisinya di beberapa acara internasional, seperti di Amerika Serikat, Australia, dan Uni Soviet.

Selain menulis dan menyutradarai drama, Rendra juga menulis Puisi dan prosa. Beberapa kumpulan puisinya yang terkenal antara lain "Balada Orang-orang Tercinta", "Sajak-sajak yang Dendam", dan "Tulang Rusuk Kiri". Ia juga menulis beberapa novel, seperti "Mata Pusaran" dan "Cinta di Atas Perahu Cadik".

Baca Juga: Rangkuman Buku The Power of Habit: Membangun Kebiasaan yang Sukses

Rendra juga aktif dalam gerakan sosial-politik di Indonesia. Pada masa Orde Baru, ia sering kali menjadi kritikus tajam pemerintah dan terlibat dalam gerakan-gerakan perlawanan. Ia juga menjadi salah satu penggerak gerakan reformasi di Indonesia pada akhir 1990-an.

Rendra meninggal dunia pada tanggal 6 Agustus 2009 di Depok, Jawa Barat, karena penyakit jantung. Karya-karyanya yang kritis dan inovatif, serta kepeduliannya terhadap keadaan sosial masyarakat, membuat Rendra diakui sebagai salah satu seniman terkemuka Indonesia. Meskipun kontroversial dan sering kali dikritik oleh pihak-pihak tertentu, ia tetap dihormati dan diingat sebagai sosok yang berani dan berintegritas tinggi dalam berkarya dan berjuang untuk kebenaran.

Karya-karya W.S. Rendra memiliki ciri khas yang kuat, yaitu mengandung kritik sosial dan politik yang tajam serta menampilkan kepekaan terhadap keadaan sosial masyarakat. Ia sering kali mempertanyakan kebenaran dan keadilan dalam masyarakat, serta mengajak pembaca atau penonton untuk memikirkan ulang pandangan-pandangan yang dianggap normatif dan menyebabkan ketidakadilan. Karya-karyanya juga seringkali mengandung humor yang cerdas, sehingga mampu menarik perhatian dan menciptakan efek yang kuat pada para penonton atau pembaca.

Baca Juga: Jejak Sejarah Kota Kediri: Dari Kerajaan Kediri hingga Kota Modern

Selain itu, Rendra juga dikenal sebagai seorang yang sangat produktif dan eksperimental dalam menciptakan karya. Ia sering kali mencampurkan berbagai genre sastra dan seni, seperti Puisi, drama, musik, dan tari, sehingga menciptakan karya-karya yang inovatif dan menarik perhatian. Karya-karyanya yang mengambil tema-tema universal, seperti cinta, kehidupan, dan kemanusiaan, juga membuat ia dikenal dan dihormati oleh banyak kalangan.

Dalam dunia sastra dan seni Indonesia, W.S. Rendra dianggap sebagai salah satu tokoh terkemuka yang memberikan pengaruh yang besar bagi perkembangan seni dan sastra di Indonesia. Karya-karyanya yang kritis dan inovatif, serta keberaniannya dalam menyuarakan kritik sosial dan politik, membuatnya tetap diingat dan dihormati hingga kini.

***

Halaman:

Editor: Andika Wildan Trisula

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Al-Khawarizmi: Matematikawan Muslim Terbesar

Minggu, 26 Maret 2023 | 21:45 WIB

Soekarno, Sang Proklamator Karismatik

Selasa, 21 Maret 2023 | 22:35 WIB

Gus Dur: Kisah Hidup Sang Pemimpin Pluralis

Senin, 20 Maret 2023 | 22:55 WIB

W.S. Rendra: Biografi Seorang Seniman Kontroversial

Minggu, 19 Maret 2023 | 21:15 WIB
X